Cahaya kekuningan menembus setiap dedaunan pohon tembakau samping pondok dari kejauhan, bersamaan dengan senter gayung (begitulah kami menyebutnya karna bentuknya yang seperti gayung) yang di gunakan oleh penjaga pondok.
Aku dan Idris mulai merangkak diatas tanah dan sekeliling pepohonan agar tidak terkena senter dengan sangat berhati-hati, seperti ninja hatori dalam film imajinasi anak-anak. Entah jadi apa baju yang kami kenakan diatas tanah lembut ibarat kasur di perhotelan.
“Awas kepalamu idris “ucapku memperingati teman karibku itu agar tidak terkena cahaya senter.
“iya-iya aku tahu “ jawabnya dengan santai.
Gelap gulita di campur nyamuk yang berterbangan, kami berdua berusaha untuk bisa lolos dari intaian penjaga pondok yang sangat seram dan bertubuh besar. Perlahan tapi pasti, karna jika kami ketahuan bakalan berabe urusannya.
Sesampainya di pinggir trotoar jalan raya, kami berdua mulai mengintai apa ada orang yang melihat kami berdua sambil menunggu Bus arah Sumenep-Surabaya, kami tetap bersembunyi dengan sabar dalam gelap.
“nanti di saat ada Bus, kamu duluan yang naik, setelah itu baru aku “ ucap idris yang muka dan suaranya entah di mana efek gelap.
“siap perintah ahli strategi “ ucapku dengan tawa kecil tak besuara. Idris memang lebih berpengalaman di bandingkan aku, karna kalau di hitung-hitung mungkin dia setiap tahunnya kabur dari pondok.
Dari kejauhan terlihat cahaya lampu bus menerangi jalan menandakan bus sudah dekat, sekitar tiga puluh meter tepatnya. Akupun mulai keluar dari kegelapan untuk berusaha menghentikan bus, sedangkan Idris masih dalam kegelapan agar tidak menimbulkan kecurigaan orang-orang yang melintas di jalan.
Seketika bus sudah berhenti di hadapanku, aku mulai naik lalu disusul oleh Idris dan duduk bersamaan di kursi tengah agar terhindar dari penglihatan orang di luar.
Deg.…deg…deg… suara degup jantung kami berdua terdengar di atara keheningan malam, posisi kami masih belum cukup aman karan belum melewati gerbang pondok.
Bus pun mulai kembali berjalan, dua puluh meter di arah barat gerbang pondok yang di penuhi petugas keamanaan cukup terlihat dari jendela bus. Dalam hati kami terus berdoa agar tidak ada orang yang naik pas di depan gerbang pondok,jikalau ada maka sia-sialah usaha kami untuk bebas, karna jelas bus akan di periksa oleh penjaga keamanan pondok.
Perjalanan ini sudah kami rencanakan jauh-jauh hari sebelum Negara api penasaran melanda diri kami, tepatnya pada pukul sebelas malam dini hari, kami diam-diam menyelinap kedalam secretariat OPA Ganspala Al-pend yang dilengkapi laptop dan dengan sigap membuka film 5 CM yang sangat popular di zamannya. Dari situlah awal cerita perjalanan kami berdua saat ini.
Dur…dur…dur…pintu secretariat kami berbunyi sangat keras pada pukul tiga pagi hari, sehingga membunyarkan semua mimpi-mimpi indah akan puncak Mahameru (sebutan untuk puncak dari gunung Semeru).
“buka pintunya” suara keras dan lantang itu berasal dari luar pintu secretariat sangat menggema di telinga kami berdua.
Aku meletakkan jari telunjuk ke bibir manisku, memberikan isyarat agar jangan sampai bergerak dan menimbulkan suara sekecil apapun. Namun pada saat itu pula Idris tidak sengaja menyenggol perabotan-perabotan mendaki yang ada di dekat kakinya.
“tamat lah riwayat kami” seruan kecil dalam hatiku.
“mampus lah” ucap Idris yang merasa kalau kita berdua jelas akan ketahuan bahwa ada di dalam secretariat.
“buka pintunya” suara itu kembali terdengar, bahkan ini lebih besar lagi bunyinya dari pada sebelumnya.
Dengan sangat terpaksa kamipun beranjak dari tikar lusuh yang sangat tidak terawat itu untuk berdiri membuka pintu, menghilangkan rasa takut, dan menundukkan kepala kami saat membuka pintu secretariat. Tampak jelas muka ustad di depan kami yang sedari tadi menunggu momen-momen keluarnya kami, tanpa berkata apa-apa ustad itu melayangkan penyapu lantai tepat di betis kami berdua, dan dengan itupula kami mengerang kesakitan.
“pakai sandal kalian berdua dan ikuti ustad ke depan masjid” ucap ustad yang melihat kaki kami seperti ayam telanjang tanpa busana.
Memasang muka sesedih mungkin agar di beri belas kasian, kami mengiringi ustad menuju masjid yang di penuhi banyak santri, dan kamipun di suruh berdiri di depan masjid dengan menggunakan papan kertas bertulisan (saya tidak mengikuti sholat tahajjud dan sholat subuh) yang disimpan pas di dada kami.
“kali ini kita bener-bener apes cuy” ucap idris di susul gelak tawa ringan.
“ini semua gara-gara kamu cuy” balasku sambil tertawa, tertawa di atas penderitaan diri sendiri
Sunrais kali ini menyisakan keindahan akan keagungan Sang Pencipta langit dan bumi, angin-angin bertiup menerpa helai demi helai rambut yang sebagiannya tertutup oleh kopiah hitam kekuningan, kicauan burung-burung Walet bersatu padu membentuk satu irama yang amat merdu, dan gemericik air mancur di taman membuat kita khusyuk berdiri di depan masjid pondok. Satu demi satu santri mulai keluar dari masjid untuk kembali ke kamarnya masing-masing, wajah kami tertunduk dengan sendirinya karna sangat malu dilihat ribuan santri yang lewat sambil berbisik tidak bersuara di sekeliling kami, entah apa yang mereka bisikkan kami pun tidak tahu.
Untuk kesekian kalinya kami berada pada titik di mana jantung serasa ingin meledak, bagaimana tidak tiba-tiba bus berhenti pas di depan gerbang pondok.
“teng..teng..teng” bunyi besi pegangan untuk orang bediri pertanda isyarah akan adanya orang yang akan menaiki bus.
Spontan kamipun pura-pura tertidur pulas sambil menutupi wajah dengan jaket, seraya berdoa agar kali ini benar-benar ada keajaiban dari Tuhan, dan Tuhan tidak menggerakkan hati serta fikiran para petugas keamanan untuk mengecek kedalam bus.
“teng..teng..teng” bunyi itu kembali terdengar pertanda bus akan berjalan lagi.
“yesssss…..” teriakku memecahkan keheningan yang sangat mencekam tadi.
“Alhamdulillah. Tuhan selalu tahu apa yang di butuhkan hambanya” ucap idris berseru dengan sangat lega.
Deru dan sepi beradu dalam perjalanan yang amat membingungkan, berkat Tuhan kami bisa bebas dari kejar-kejaran, dan setelah di pikir-pikir ternyata kami mirip sekali dengan ninja hatori yang pandai menyelinap tanpa ketahuan. Bus yang kami naiki melesat sangat cepat menuju terminal pura baya(terminal terbesar di Surabaya).